Gen Z Muslim, Segmen Emas Baru Industri Pariwisata
TIMES Padang/Dr. Eka Mariyanti, Ka.Prodi S1 Pariwisata-Universitas Dharma Andalas.

Gen Z Muslim, Segmen Emas Baru Industri Pariwisata

Pengelola destinasi, pelaku usaha, hingga pembuat kebijakan perlu melihat Gen Z Muslim bukan sekadar sebagai pasar, melainkan sebagai mitra dalam membangun pariwisata yang berkelanjutan.

TIMES Padang,Jumat 6 Februari 2026, 13:32 WIB
797
H
Hainor Rahman

PadangDunia sedang berubah cepat, dan perubahan itu salah satunya didorong oleh angka. Data World Population Review 2024 mencatat bahwa hingga April 2025, dua negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia masih ditempati India (1,46 miliar jiwa) dan China (1,41 miliar jiwa). Indonesia menyusul sebagai negara dengan populasi keempat terbesar di dunia, mencapai 285,7 juta jiwa. 

Meski laju pertumbuhan penduduk global mulai melambat dengan total populasi dunia sekitar 8,14 miliar jiwa pada 2024 jumlah manusia di bumi tetap diproyeksikan terus bertambah dan menembus 10 miliar jiwa pada 2061. Di tengah lanskap demografi sebesar ini, satu kelompok usia muncul sebagai aktor kunci masa depan yaitu  Generasi Z.

Generasi Z, termasuk di dalamnya Gen Z Muslim, bukan sekadar angka statistik. Mereka adalah generasi yang lahir dan tumbuh sepenuhnya di era digital, terbiasa dengan keterbukaan informasi, mobilitas tinggi, dan interaksi lintas budaya. 

Secara global, populasi Gen Z diperkirakan mencapai sekitar 2 miliar jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 553 juta adalah Muslim Generasi Z tentunya ini setara dengan 27,2 persen dari total populasi Muslim dunia. 

Artinya, satu dari empat Muslim di dunia saat ini adalah Gen Z. Proporsi ini bahkan lebih tinggi dari rata-rata global, menandakan bahwa komunitas Muslim memiliki struktur usia yang relatif muda dan potensi pasar yang sangat besar, termasuk dalam sektor pariwisata.

Yang menarik, sekitar 85 persen Muslim Gen Z tinggal di negara-negara berkembang, sementara hanya 15 persen berada di negara maju. Fakta ini menempatkan negara seperti Indonesia dalam posisi strategis. Dengan populasi besar dan mayoritas Muslim, Indonesia bukan hanya pasar domestik yang potensial, tetapi juga pemain penting dalam arus wisata Muslim global. 

Sekitar 356 juta Muslim Gen Z bahkan tercatat berada di 30 pasar outbound Muslim terbesar dunia, menjadikan mereka kelompok yang sangat berpengaruh dalam membentuk pola perjalanan, konsumsi, dan gaya hidup masa depan.

Namun, Gen Z Muslim tidak bisa dipahami dengan kacamata lama. Mereka religius, tetapi tidak kaku. Mereka memegang nilai spiritual, tetapi tetap adaptif dan terbuka terhadap pengalaman baru. 

Pilihan destinasi mereka tidak semata ditentukan oleh label destinasi Islami, melainkan oleh kombinasi antara nilai keimanan, pengalaman autentik, kenyamanan, teknologi, serta rasa aman dan penerimaan sosial. Bagi Gen Z Muslim, perjalanan adalah ruang untuk bertumbuh, belajar, dan membangun koneksibukan sekadar liburan.

Berbagai studi menunjukkan pergeseran preferensi yang menarik. Lebih dari 65 persen Muslim Gen Z ingin terlibat langsung dengan budaya lokal di destinasi yang mereka kunjungi. Minat ini diikuti oleh ketertarikan pada wisata alam (53 persen), aktivitas belanja (53 persen), dan kegiatan rekreasi (52 persen). 

Festival seni, petualangan ke destinasi terpencil, hingga kegiatan sukarela juga lebih diminati dibandingkan generasi sebelumnya. Bahkan, laporan Global Young People mencatat bahwa sekitar 15 persen Gen Z memandang kesempatan bepergian dan bertemu orang baru sebagai faktor penting dalam merancang masa depan mereka.

Di sinilah peluang besar industri pariwisata terbuka. Gen Z Muslim cenderung menempatkan petualangan sebagai prioritas utama dan kenyamanan sebagai prioritas keduaberbeda dengan wisatawan milenial yang sering kali membalik urutan tersebut. 

Mereka juga lebih fleksibel dalam mencari alternatif pemenuhan kebutuhan keimanan, selama destinasi menyediakan layanan dasar ramah Muslim. Oleh karena itu, pengembangan destinasi berbasis alam, budaya lokal, dan aktivitas luar ruang yang didukung layanan halal-friendly bukan hanya relevan, tetapi strategis.

Singkatnya, Gen Z Muslim bukan sekadar segmen tambahan dalam industri pariwisata. Mereka adalah segmen emas baru, besar secara jumlah, kuat secara nilai, dan visioner dalam cara bepergian. 

Memahami karakter mereka berarti membaca arah masa depan pariwisata global. Bagi pelaku industri, pemerintah, dan pengelola destinasi, tantangannya bukan lagi apakah harus melirik Gen Z Muslim, melainkan seberapa siap kita menyambut mereka.

Jika Generasi Z Muslim telah dipahami sebagai segmen emas baru industri pariwisata dimana besar secara jumlah, kuat secara nilai, dan aktif secara mobilitas, maka pertanyaan berikutnya menjadi krusial: apa yang harus disiapkan industri dan destinasi wisata ramah Muslim Indonesia untuk benar-benar menyambut mereka? 

Jawaban atas pertanyaan ini tidak bisa lagi bersifat normatif atau simbolik. Menyediakan label halal semata jelas tidak cukup untuk menjangkau generasi yang tumbuh dalam lanskap digital, global, dan penuh pilihan seperti Gen Z Muslim.

Dalam konteks inilah, bagian Traveling While Gen Z: The 4As Narrative menjadi kerangka konseptual penting untuk membaca perilaku perjalanan Generasi Z Muslim secara lebih utuh. Konsep 4As yaitu Authentic, Affordable, Accessible, dan Adaptable menawarkan perspektif baru tentang bagaimana Gen Z Muslim memaknai perjalanan, memilih destinasi, dan mengevaluasi pengalaman wisata. 

Kerangka ini sekaligus menjadi pengembangan dari pendekatan sebelumnya yang digunakan dalam laporan MastercardCrescentRating Muslim Millennial Traveler, yang menekankan tiga aspek utama (3As).

Perbedaan generasi menjadi kunci dalam memahami mengapa pendekatan lama tidak sepenuhnya relevan. Jika wisatawan Muslim milenial cenderung mencari kenyamanan dan kepastian layanan halal, maka Gen Z Muslim hadir dengan karakter yang lebih dinamis. 

Mereka religius, tetapi tidak kaku. Mereka memegang nilai keimanan, namun tetap terbuka terhadap pengalaman lintas budaya selama kebutuhan dasar spiritual mereka dihormati. Di sinilah dimensi keempat, Adaptable, menjadi pembeda utama Gen Z dibandingkan generasi sebelumnya.

Aspek Authentic menegaskan bahwa Gen Z Muslim sangat menghargai keaslian pengalaman. Mereka cenderung lebih percaya pada ulasan nyata, rekomendasi personal, dan cerita yang datang dari pengalaman langsung baik melalui teman, keluarga, maupun kreator digital yang kredibel. 

Keaslian tidak hanya dimaknai sebagai lokal atau tradisional, tetapi sebagai pengalaman yang jujur, bermakna, dan selaras dengan nilai diri. Bagi Gen Z, perjalanan adalah medium pembentukan identitas, bukan sekadar konsumsi destinasi.

Keaslian juga berkaitan erat dengan pengalaman spiritual dan sosial. Gen Z Muslim tidak mencari destinasi yang terlihat Islami semata, tetapi yang memungkinkan mereka tetap menjalankan ibadah dengan tenang, berinteraksi secara sehat dengan komunitas lokal, serta merasa diterima secara sosial. 

Oleh karena itu, destinasi yang inklusif, toleran, dan ramah terhadap keberagaman justru memiliki daya tarik yang lebih kuat dibandingkan destinasi yang hanya mengandalkan branding keagamaan.

Dimensi Affordable menunjukkan realitas ekonomi Gen Z yang masih berada pada fase awal kehidupan produktif. Dengan daya beli yang relatif terbatas, Gen Z Muslim sangat sensitif terhadap nilai dan manfaat. Mereka mencari perjalanan yang ekonomis, tetapi tetap berkualitas. 

Harga murah bukan satu-satunya pertimbangan mereka; yang lebih penting adalah value for money. Industri pariwisata perlu merancang paket, akomodasi, dan aktivitas yang terjangkau tanpa mengorbankan kenyamanan dasar dan prinsip halal.

Sementara itu, aspek Accessible menegaskan karakter Gen Z sebagai generasi digital native. Kemudahan akses informasi, sistem pemesanan yang sederhana, pembayaran digital, serta layanan berbasis aplikasi bukan lagi nilai tambah, melainkan kebutuhan utama. 

Destinasi wisata ramah Muslim yang gagal hadir secara kuat di ruang digital berisiko kehilangan perhatian Gen Z. Bagi generasi ini, pengalaman perjalanan dimulai jauh sebelum keberangkatan di layar ponsel, media sosial, dan platform ulasan daring.

Aspek terakhir, Adaptable, menjadi refleksi dari fleksibilitas Gen Z Muslim dalam menghadapi perubahan. Mereka terbiasa menyesuaikan rencana perjalanan karena faktor biaya, waktu, tren, bahkan kondisi global seperti krisis atau perubahan regulasi. 

Fleksibilitas ini juga tercermin dalam cara mereka memenuhi kebutuhan keimanan, misalnya dengan mencari alternatif tempat ibadah, makanan halal, atau layanan ramah Muslim di destinasi non-muslim. Sikap adaptif ini mencerminkan pola pikir pragmatis dan resilien.

Secara keseluruhan, narasi 4As menggambarkan semangat, prinsip, dan motivasi perjalanan Gen Z Muslim secara komprehensif. Bagi industri pariwisata dan destinasi ramah Muslim Indonesia, kerangka ini bukan sekadar bahan kajian akademik, melainkan panduan strategis. 

Dengan mengintegrasikan keaslian pengalaman, keterjangkauan harga, aksesibilitas digital, dan fleksibilitas layanan, Indonesia memiliki peluang besar untuk tidak hanya menjadi tujuan wisata ramah Muslim, tetapi juga menjadi rumah pengalaman yang relevan bagi generasi Muslim masa depan.

Jika sebelumnya Gen Z Muslim dipahami melalui kerangka 4As authentic, affordable, accessible, dan adaptable maka hasil survei terbaru CrescentRating & Mastercard memperlihatkan bagaimana kerangka tersebut benar-benar hidup dalam praktik perjalanan mereka. 

Bukan sekadar konsep, data ini menunjukkan bahwa Generasi Z Muslim telah menjelma menjadi travel addicts, kelompok wisatawan masa depan yang aktif, fleksibel, dan menjadikan perjalanan sebagai bagian dari gaya hidup. Bagi Indonesia, ini bukan sekadar tren global, melainkan peluang strategis yang sangat nyata.

Survei Muslim Gen Z: The Next Generation of Travelers menggambarkan bahwa Gen Z Muslim tidak memandang perjalanan sebagai agenda tahunan yang insidental. Sebaliknya, perjalanan menjadi medium eksplorasi diri dan dunia. 

Mayoritas Gen Z Muslim memilih durasi perjalanan yang relatif lebih panjang: 36% bepergian selama 46 hari, 32% bahkan memilih 12 minggu. Pola ini menandakan perubahan besar dari wisata cepat menjadi wisata mendalam sebuah peluang emas bagi destinasi Indonesia yang kaya akan pengalaman budaya dan alam.

Kecenderungan tinggal lebih lama ini memberi sinyal penting bagi pelaku pariwisata nasional. Gen Z Muslim tidak sekadar datang, berfoto, lalu pulang. Mereka ingin immersive experience yaitu mengenal budaya lokal, menikmati alam, dan membangun cerita personal. 

Destinasi seperti desa wisata, kawasan ekowisata, dan kota budaya di Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pilihan utama jika dikemas dengan pendekatan yang relevan dengan gaya hidup Gen Z.

Dari sisi kemandirian finansial, data menunjukkan pergeseran yang menarik. Sekitar 32% Gen Z Muslim membiayai perjalanan sepenuhnya dari uang mereka sendiri, sementara 16% masih bergantung penuh pada orang tua. 

Ini menandakan bahwa Gen Z mulai memasuki fase ekonomi mandiri lebih cepat dibanding generasi sebelumnya. Bagi industri pariwisata, ini berarti pasar yang tumbuh, bukan pasar pasif mereka memiliki daya beli, sekaligus kebebasan memilih.

Perubahan ini juga tercermin dalam pola pembayaran. Sebanyak 73% Gen Z Muslim telah terbiasa menggunakan kartu debit atau kredit, meskipun 57% masih menggunakan uang tunai dalam kondisi tertentu. 

Artinya, Gen Z berada dalam fase transisi menuju ekosistem perjalanan yang semakin cashless. Indonesia, dengan pesatnya adopsi QRIS dan dompet digital, berada pada posisi yang sangat kompetitif untuk menyambut wisatawan Gen Z Muslim yang melek teknologi.

Motivasi perjalanan Gen Z Muslim juga jauh lebih beragam dibandingkan generasi sebelumnya. Data menunjukkan 85% bepergian untuk liburan, 50% untuk mengunjungi keluarga atau teman, 30% untuk pendidikan formal, dan 30% untuk umrah atau haji. 

Kombinasi ini memperlihatkan bahwa perjalanan bagi Gen Z bukan hanya rekreasi, tetapi juga sarana memperkuat hubungan sosial, memperdalam pengetahuan, dan memenuhi kebutuhan spiritual. Indonesia, dengan potensi wisata religi, edukasi, dan budaya, berada pada posisi yang sangat strategis.

Dari sisi waktu perjalanan, Gen Z Muslim menunjukkan pola yang relatif konsisten. Bulan Desember menjadi periode favorit dengan 50% responden memilih akhir tahun untuk bepergian, disusul Agustus (27%), Juli (24%), dan Januari (23%). 

Pola ini berkaitan erat dengan kalender akademik dan fleksibilitas kerja generasi muda. Bagi pelaku industri pariwisata, data ini penting untuk merancang promosi musiman, paket liburan, dan kalender event yang lebih tepat sasaran.

Preferensi terhadap akomodasi juga menunjukkan karakter khas Gen Z. Sebanyak 80% mengutamakan interior yang bersih dan estetis, 77% memilih layanan yang ramah anggaran, dan 51% tertarik pada destinasi dengan daya tarik unik. 

Akomodasi yang instagramable bukan sekadar soal visual, tetapi tentang pengalaman yang bisa dibagikan dan dikenang. Inilah alasan mengapa homestay kreatif, hotel butik, dan penginapan berbasis komunitas memiliki daya tarik kuat bagi Gen Z Muslim.

Menariknya, meskipun Gen Z dikenal sebagai generasi digital, mereka tetap rasional dalam pengelolaan anggaran. Sebanyak 69% melakukan dua perjalanan atau lebih dalam setahun, namun tetap berorientasi pada value for money. 

Sekitar 60% bersedia mengalokasikan hingga USD 500 untuk penerbangan, 75% untuk makanan, dan 67% untuk akomodasi. Ini menegaskan bahwa Gen Z tidak selalu mencari yang termurah, tetapi yang paling sepadan dengan pengalaman yang diperoleh.

Keseluruhan temuan ini menegaskan satu hal penting yaitu Gen Z Muslim bukanlah pasar masa depan, tetapi mereka adalah pasar hari ini. Bagi Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan kekayaan destinasi yang luar biasa, segmen ini adalah peluang emas yang tidak boleh disia-siakan. 

Dengan memahami pola, preferensi, dan nilai yang dipegang Gen Z Muslim, industri pariwisata nasional dapat bergerak lebih adaptif, inklusif, dan relevan menjadikan Indonesia bukan sekadar tujuan wisata ramah Muslim, tetapi rumah pengalaman bagi generasi penjelajah masa depan.

Generasi Z Muslim kini tampil sebagai wajah baru pariwisata global bukan sekadar penikmat perjalanan, melainkan agen perubahan. Paparan intens terhadap isu sosial, lingkungan, dan kemanusiaan lewat media sosial membentuk cara pandang mereka terhadap dunia. 

Bagi Gen Z, bepergian bukan lagi soal destinasi populer atau foto cantik semata, melainkan tentang nilai yang mereka bawa dan dampak yang mereka tinggalkan. Setiap perjalanan adalah pernyataan sikap.

Kesadaran ini tercermin dari cara mereka membelanjakan uang saat bepergian. Gen Z Muslim dikenal sebagai intentional spenders wisatawan yang sadar tujuan. 

Mereka lebih memilih menginap di akomodasi milik warga lokal, menggunakan jasa pemandu setempat, hingga membeli produk UMKM di destinasi yang dikunjungi. Uang yang dikeluarkan bukan hanya untuk kenyamanan pribadi, tetapi juga sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi lokal.

Pilihan konsumsi tersebut bukan tren sesaat, melainkan cerminan nilai. Bagi Gen Z Muslim, perjalanan yang baik adalah perjalanan yang memberi manfaat timbal balik. 

Destinasi tidak diposisikan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai ruang kolaborasi antara wisatawan dan masyarakat. Inilah bentuk baru pariwisata yang lebih adil, beretika, dan berkelanjutan sesuatu yang makin dicari oleh generasi muda.

Di saat yang sama, kepedulian lingkungan juga menjadi bagian penting dari identitas Gen Z Muslim. Banyak di antara mereka yang mulai mempertimbangkan jejak karbon dalam setiap rencana perjalanan. 

Mengurangi penerbangan, memilih destinasi yang lebih dekat, hingga mendukung bisnis ramah lingkungan menjadi keputusan yang makin lazim. Wisata ideal, bagi mereka, adalah yang mampu menyeimbangkan kesenangan pribadi dengan tanggung jawab terhadap alam.

Namun, Gen Z Muslim bukan kelompok yang seragam. Ada yang sangat aktif menyuarakan isu lingkungan, ada pula yang masih berada di tahap mempertimbangkan. Sebagian masih menilai bahwa dampak ekologis belum menjadi faktor utama dalam keputusan bepergian. 

Keragaman ini justru menunjukkan bahwa Gen Z Muslim adalah segmen yang dinamis terbuka terhadap perubahan, namun tetap realistis dengan keterbatasan yang ada.

Menariknya, meski banyak dari mereka baru memasuki dunia kerja dan memiliki daya beli terbatas, Gen Z Muslim justru semakin tegas dalam memilih produk dan layanan. Nama besar merek bukan lagi jaminan. 

Keberlanjutan, etika, dan dampak sosial sering kali dinilai lebih penting daripada gengsi. Produk yang jujur dan berdampak positif justru punya nilai lebih di mata mereka.

Bagi pelaku industri pariwisata dan ekonomi kreatif, pesan ini sangat jelas. Gen Z Muslim bukan pasar yang bisa didekati dengan strategi lama. Harga murah saja tidak cukup. Mereka ingin tahu siapa yang diuntungkan dari uang yang mereka keluarkan, bagaimana bisnis dijalankan, dan nilai apa yang diperjuangkan. Inilah generasi yang menjadikan nilai sebagai kompas utama dalam mengambil keputusan.

Di tengah semua itu, kebutuhan berbasis iman tetap menjadi fondasi utama perjalanan Gen Z Muslim. Aspek keagamaan bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari rasa aman dan kenyamanan. Makanan halal, fasilitas salat yang mudah diakses, kamar mandi ramah air, serta lingkungan yang bebas dari Islamofobia adalah kebutuhan dasar yang tidak bisa ditawar.

Di atas kebutuhan mendasar tersebut, Gen Z Muslim juga menghargai pengalaman tambahan yang bermakna. Aktivitas sosial berbasis komunitas, layanan selama Ramadan, hingga interaksi dengan budaya Muslim lokal menjadi nilai plus yang memperkaya perjalanan. Mereka ingin merasakan koneksi spiritual dan kultural yang nyata, bukan pengalaman artifisial.

Yang menarik, semua kebutuhan berbasis iman ini tidak bertentangan dengan karakter Gen Z yang digital, terbuka, dan adaptif. Justru sebaliknya, mereka mengharapkan integrasi yang mulus antara layanan syariah, teknologi, dan pengalaman modern. 

Destinasi yang mampu menjawab kebutuhan ini secara konsisten bukan hanya akan dikunjungi, tetapi juga direkomendasikan. Bagi industri pariwisata, Gen Z Muslim bukan sekadar pasar masa depan mereka adalah penentu arah baru pariwisata global yang lebih bernilai, inklusif, dan berkelanjutan.

Dengan seluruh karakter, nilai, dan preferensi yang mereka bawa, Generasi Z Muslim sesungguhnya sedang mengirim pesan kuat kepada industri pariwisata, inilah saatnya berbenah dan bergerak lebih relevan. Segmen ini tidak menuntut kemewahan berlebihan, tetapi kejujuran, keberpihakan, dan konsistensi nilai. 

Pengelola destinasi, pelaku usaha, hingga pembuat kebijakan perlu melihat Gen Z Muslim bukan sekadar sebagai pasar, melainkan sebagai mitra dalam membangun pariwisata yang berkelanjutan. Destinasi yang mampu menghadirkan pengalaman autentik, ramah muslim, peduli lingkungan, serta memberi ruang bagi ekonomi lokal akan menjadi pilihan utama mereka. 

Di tangan Generasi Z Muslim, masa depan pariwisata tidak lagi hanya tentang jumlah kunjungan, tetapi tentang kualitas dampak. Dan bagi Indonesia dengan kekayaan alam, budaya, dan masyarakat Muslim yang besar ini adalah momentum emas untuk menyambut generasi penjelajah baru yang akan menentukan arah pariwisata di tahun-tahun mendatang. (*)

***

*) Oleh : Dr. Eka Mariyanti, Ka.Prodi S1 Pariwisata-Universitas Dharma Andalas.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Hainor Rahman
|
Editor:Hainorrahman

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Padang, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.