UNAND Dampingi Digitalisasi UMKM Terdampak Banjir di Lubuk Minturun
Pelatihan ini membuka wawasan pelaku UMKM tentang pentingnya pembukuan yang rapi dalam mengembangkan usaha.
Padang – Universitas Andalas (UNAND) memperkuat digitalisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terdampak banjir di Kelurahan Lubuk Minturun Sungai Lareh, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, melalui Program Mahasiswa Berdampak 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI.
Program ini melibatkan 50 mahasiswa yang berasal dari UKM FKI Rabbani dan UKPMF Biner dan menyasar Kelompok UMKM PURI Kota Padang serta Tim Penggerak PKK Lubuk Minturun yang terdampak banjir pada akhir 2025. Kegiatan difokuskan pada penguatan tata kelola usaha dan percepatan adaptasi pelaku UMKM terhadap sistem ekonomi digital.
Hasdi Putra, Ketua Tim Program Mahasiswa Berdampak yang merupakan Dosen Fakultas Teknologi Informasi, mengatakan pendampingan dirancang sebagai langkah konkret membantu pemulihan ekonomi masyarakat melalui pembenahan manajemen usaha.
“Program ini kami arahkan untuk menjawab kebutuhan riil pelaku UMKM pascabencana. Administrasi usaha yang tertib menjadi fondasi penting agar mereka bisa bangkit lebih cepat,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, transformasi digital bukan sekadar penggunaan aplikasi, melainkan perubahan cara mengelola usaha secara lebih sistematis dan berbasis data. Dengan pencatatan yang baik, pelaku usaha dapat memantau arus kas, stok, dan keuntungan secara akurat.

Ia menambahkan, pendampingan dilakukan secara bertahap, mulai dari pelatihan dasar hingga penguatan sistem distribusi dan pemasaran digital.
“Harapannya, setelah program ini selesai, mitra sudah mampu mengoperasikan sistem secara mandiri dan berkelanjutan,” katanya.
Sebagai tahap awal, mahasiswa memberikan pelatihan sistem pencatatan digital menggunakan aplikasi Point of Sale (POS) pada 11 Februari 2026. Pelaku UMKM dilatih melakukan input barang, simulasi transaksi, hingga penyusunan laporan penjualan.
Pendampingan kemudian dilanjutkan pada 24 Februari 2026 dengan materi pengelolaan reseller dan distribusi berbasis digital, termasuk pemanfaatan platform daring untuk mendukung pemasaran dan pengelolaan pesanan.
Rima Nofiana, Ketua UMKM PURI, mengatakan sebelum adanya pelatihan, pencatatan transaksi dan stok masih dilakukan secara manual sehingga kerap menyulitkan evaluasi penjualan.
“Dengan sistem kasir digital, kami bisa mengetahui barang masuk dan keluar secara lebih jelas. Ini membantu kami mengontrol stok dan menghitung keuntungan,” ujarnya.
Ia menilai pelatihan tersebut membuka wawasan pelaku UMKM tentang pentingnya pembukuan yang rapi dalam mengembangkan usaha.
“Selama ini kami fokus jualan, tetapi belum terlalu memperhatikan pencatatan secara detail,” katanya.
Rima berharap pendampingan serupa dapat terus berlanjut agar pelaku UMKM semakin terbiasa menggunakan teknologi digital dalam operasional sehari-hari dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
"Kita ingin wujudkan UMKM berdaya kembali dengan teknologi," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



