https://padang.times.co.id/
Opini

Satu Abad Pesantren Kauman Muhammadiyah Menyambut Peradaban

Jumat, 02 Januari 2026 - 06:12
Satu Abad Pesantren Kauman Muhammadiyah Menyambut Peradaban Taufikkurahman, Tim humas Pesantren Kauman.

TIMES PADANG, PADANG – Di tengah arus zaman yang bergerak cepat ketika pendidikan kerap direduksi menjadi sekadar angka, peringkat, dan sertifikat Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang berdiri seperti pohon tua yang menolak tumbang oleh terpaan angin sejarah. Akar keilmuannya menghunjam dalam, sementara cabang-cabangnya terus merentang ke arah langit masa depan. 

Menjelang satu abad usia pengabdian, pesantren ini bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan ruang peradaban yang telah lama mengolah akal, membentuk akhlak, dan menanamkan keberanian berpikir.

Lahir pada masa pra-kemerdekaan, di awal denyut tajdid Muhammadiyah di Minangkabau, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang hadir sebagai ikhtiar intelektual dan spiritual. Ia tumbuh di tanah Padang Panjang, kota yang dikenal sebagai pusat pendidikan Islam dan tempat bertemunya tradisi surau dengan semangat pembaruan. Di sinilah pesantren mengambil posisi yang tidak mudah: menjaga warisan keislaman yang otentik, sekaligus menyambut modernitas tanpa inferioritas.

Sejak awal, pesantren ini tidak memilih jalan ekstrem. Ia tidak terjebak dalam romantisme masa lalu, tetapi juga tidak larut dalam euforia kemajuan yang kehilangan arah. Tradisi pesantren Al-Qur’an, Hadis, kitab kuning, dan disiplin hidup berasrama dirawat sebagai fondasi. 

Namun di atas fondasi itu, Muhammadiyah meletakkan rasionalitas, keterbukaan, dan orientasi kemajuan. Pendidikan di Pesantren Kauman bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan upaya pembentukan manusia seutuhnya: beriman tanpa fanatik, berilmu tanpa pongah, dan modern tanpa tercerabut dari nilai.

Hampir satu abad berjalan, pesantren ini telah menjadi kawah candradimuka bagi ribuan santri. Dari bilik-bilik sederhana itulah lahir ulama, pendidik, intelektual, dan profesional yang menyebar ke berbagai penjuru. 

Mereka menjadi bukti bahwa pendidikan integral yang memadukan agama dan sains bukan utopia. Pesantren Kauman Muhammadiyah telah menunjukkan bahwa kesalehan dan kecakapan duniawi bukan dua kutub yang harus dipertentangkan.

Namun usia seabad bukan sekadar perayaan panjang umur. Ia adalah momen evaluasi dan keberanian bertanya: sejauh mana pesantren masih relevan dengan zaman yang berubah cepat? Dunia digital, generasi Z dan Alpha yang berpikir serba instan, serta krisis moral yang kian kompleks, menuntut pesantren untuk tidak sekadar bertahan, tetapi juga melompat. Tantangannya bukan hanya bagaimana mengajarkan ilmu, tetapi bagaimana menjaga makna di tengah banjir informasi.

Di sinilah pentingnya pesantren membaca zaman dengan kejernihan nilai. Penguasaan teknologi, literasi digital, dan keterampilan abad ke-21 bukan pilihan tambahan, melainkan keniscayaan. Namun, semua itu harus ditanamkan dengan ruh etik dan spiritual. 

Pesantren Kauman Muhammadiyah memiliki modal kultural yang kuat untuk menjawab tantangan ini: tradisi berpikir kritis Muhammadiyah dan etos moral pesantren. Keduanya adalah kombinasi langka di tengah pendidikan yang sering terjebak antara konservatisme kaku dan modernitas yang dangkal.

Lebih dari sekadar lembaga pendidikan, pesantren juga memiliki tanggung jawab sosial. Di tengah krisis ekologis, polarisasi keagamaan, dan ketimpangan sosial, pesantren harus hadir sebagai pusat pencerahan masyarakat. 

Ia bukan hanya tempat belajar santri, tetapi juga rumah gagasan tempat lahirnya wacana moderasi, keadilan, dan keberpihakan pada kemanusiaan. Pesantren yang besar bukan yang menutup diri, melainkan yang mampu berdialog dengan realitas.

Menuju abad kedua, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang sejatinya sedang melangkah dari sejarah menuju legasi. Sejarah adalah apa yang telah dicapai, sementara legasi adalah apa yang diwariskan. 

Legasi itu bukan sekadar bangunan fisik atau kurikulum tertulis, melainkan karakter lulusan: manusia yang berpikir jernih, berhati lapang, dan berani mengambil peran dalam perubahan sosial.

Padang Panjang, sebagai kota pendidikan, memiliki cermin dirinya di pesantren ini. Ketika pesantren tumbuh matang, kota ikut bercahaya. Ketika pesantren berani berinovasi, masyarakat mendapatkan harapan. 

Di titik inilah Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang diharapkan terus menjadi mercusuar bukan hanya menerangi lingkungannya sendiri, tetapi juga memberi arah bagi perjalanan peradaban yang lebih luas.

Menuju satu abad, pesantren ini mengajarkan satu hal penting: bahwa kemajuan tidak harus meniadakan tradisi, dan tradisi tidak harus memusuhi masa depan. 

Di antara keduanya, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang berdiri tegak merawat nilai, menyambut zaman, dan menyiapkan generasi yang berakar kuat sekaligus berpandangan jauh.

***

*) Oleh : Taufikkurahman, Tim humas Pesantren Kauman.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Padang just now

Welcome to TIMES Padang

TIMES Padang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.