https://padang.times.co.id/
Opini

Pertarungan Tiga Kerajaan

Senin, 05 Januari 2026 - 23:31
Pertarungan Tiga Kerajaan Muhibbullah Azfa Manik, Dosen Program Studi Teknik Industri, Universitas Bung Hatta.

TIMES PADANG, PADANG – Hollywood tidak runtuh ketika 20th Century Fox lenyap sebagai entitas mandiri. Ia hanya berganti tangan. Studio legendaris itu, dengan logo gunung dan sorotan lampunya yang ikonis, ditelan Disney tanpa dentuman meriam, tanpa ratapan publik yang luas. 

Proses akuisisi senilai $71,3 miliar itu pada 2019 bukanlah revolusi, melainkan konsolidasi ultimat dalam perjalanan panjang industri film menuju oligopoli. Kekuasaan berpindah, layar tetap menyala. 

Di balik glamor lampu sorot dan karpet merah, Hollywood bekerja seperti biasa: menghitung pengaruh kultural dan strategis jangka panjang, bukan sekadar pendapatan kuartalan.

Dalam lanskap baru yang didominasi raksasa seperti Disney (yang kini menguasai Fox, Marvel, Lucasfilm, dan Pixar) dan Netflix, tiga kerajaan lama Hollywood Warner Bros., Universal Pictures, dan Paramount Pictures berdiri tegak dengan warisan dan strategi bertahan yang berbeda. 

Mereka tidak lagi sekadar bersaing untuk membuat film laris (blockbuster). Pertarungan mereka lebih subtil dan menentukan: memperebutkan hak istimewa untuk membentuk dan menguasai imajinasi global. 

Soal siapa yang paling mampu menanamkan cerita, mitos, dan nilai-nilai ke dalam kesadaran kolektif miliaran penonton di seluruh dunia, itulah pertarungan sebenarnya di era streaming dan content wars ini.

Warner Bros. memilih jalur mitologi sebagai fondasi kekuasaannya. Studio ini memahami bahwa penonton modern, terutama generasi digital, tidak lagi membeli cerita tunggal, melainkan "dunia" (world-building) yang kohesif dan dapat dihuni. 

Harry Potter, The Lord of the Rings, hingga Semesta DC (DC Extended Universe) dibangun layaknya negara dengan sejarah, aturan, hierarki, dan konflik internal yang kompleks. The Dark Knight bukan sekadar film superhero; ia adalah alegori politik tentang negara dalam keadaan darurat, tentang pengorbanan kebebasan demi keamanan, dan legitimasi ketakutan. 

Joker (2019) bahkan lebih brutal sebuah potret kegilaan sosial dan keterasingan yang dibungkus dengan ikon komik, lalu dilepas ke ruang publik tanpa penyangga moral yang jelas, memicu debat yang jauh melampaui batas-batas bioskop.

Warner lihai memainkan dua wajah. Di satu sisi, ia menjual kegelapan, kompleksitas, dan prestise melalui sutradara seperti Christopher Nolan. Di sisi lain, ia tetap memproduksi hiburan mentah dan spektakuler seperti Aquaman dan horor massal seperti It. 

Oscar dan box office bukan dua kutub yang saling meniadakan; keduanya dikoleksi sekaligus. Dengan portofolio yang mencakup HBO Max (kini Max), Warner Discovery ingin berkuasa secara simbolik dan finansial, menguasai narasi dari film arthouse hingga serial prestige television.

Mekanik Hiburan yang Tak Kenal Ilusi

Universal Pictures bergerak tanpa pretensi intelektual yang berlebihan, menjadikannya pembaca pasar yang paling jujur dan efektif. Jaws (1975) Steven Spielberg secara harfiah melahirkan konsep summer blockbuster modern. Jurassic Park mengajarkan bahwa nostalgia yang dikawinkan dengan teknologi mutakhir (CGI) adalah mesin uang paling tahan banting. 

Fast dan Furious membuktikan bahwa alur cerita bisa ditinggalkan di titik tertentu, selama formula keluarga, kecepatan, dan ledakan spektakuler tetap konsisten. Universal tidak berpura-pura mendidik atau mengangkat derajat penonton; ia melayani hasrat akan hiburan murni dan pelarian sensasional.

Namun, kesuksesan Universal terletak pada fleksibilitasnya yang taktis. Studio ini tahu kapan harus bersikap serius dan berinvestasi pada karya yang memberi legitimasi kultural. Schindler’s List (1993) dan Oppenheimer (2023) menunjukkan bahwa di bawah payung yang sama dengan Minions, Universal mampu memproduksi film berat bersejarah tanpa kehilangan daya jual komersial atau sentuhan sutradara visioner. 

Get Out (2017) Jordan Peele bahkan menyerang rasisme struktural dengan bahasa horor populer yang cerdas, menciptakan percakapan sosial yang luas. Universal tidak membangun ideologi tunggal; ia menyesuaikan dan memanfaatkan arus budaya yang ada dengan efisiensi yang mengagumkan.

Penjaga Memori dan Humanisme Klasik

Paramount Pictures memilih jalur yang lebih sunyi dan mungkin terasa kuno di era cinematic universe. Studio ini tidak segemuruh Warner atau seagresif Universal. Namun, Paramount memiliki senjata yang langka dan berharga: kekuatan memori dan warisan kebesaran sinema klasik. 

The Godfather adalah kitab kekuasaan, keluarga, dan korupsi moral Amerika yang tak pernah usang. Forrest Gump menjual kepolosan dan sentimentalitas sebagai lensa untuk membaca sejarah brutal Amerika. 

Saving Private Ryan meruntuhkan romantisme perang dengan realisme berdarah yang traumatis. Bahkan Top Gun: Maverick (2022) membuktikan bahwa nostalgia, jika diolah dengan disiplin produksi yang tinggi dan penghormatan pada emosi asli, bisa menjadi senjata budaya dan komersial yang sangat ampuh.

Paramount tidak selalu mengejar penciptaan dunia luas atau sensasi beruntun. Ia seringkali menambatkan ceritanya pada pengalaman manusia yang intim pada hubungan, kehilangan, penyesalan, dan pilihan moral. 

Dalam industri yang semakin mekanis dan digerakkan oleh franchise, pendekatan humanis dan berbasis karakter ini justru menjadi pembeda. Ia bertahan bukan dengan menguasai segalanya, tetapi dengan menguasai momen-momen ikonik yang melekat dalam ingatan kolektif penonton.

Pertarungan ketiga studio ini, di tengah bayang-bayang Disney dan raksasa teknologi, pada dasarnya adalah pertarungan tafsir atas dunia. Warner menjual kegelisaban dan kompleksitas sebagai mitologi modern. 

Universal menjual hiburan dan sensasi sebagai kebiasaan konsumen yang tak terelakkan. Paramount menjual kenangan, humanisme, dan keahlian penyutradaraan klasik sebagai nilai abadi. 

Tak satu pun dari posisi ini yang netral; semuanya politis. Setiap film, betapapun menghibur, membawa serta cara pandang tertentu tentang kekuasaan, keadilan, keluarga, identitas pahlawan, dan siapa yang pantas menjadi musuh.

Hilangnya Fox sebagai kekuatan kreatif mandiri bukan sekadar akhir sebuah studio; ia adalah gejala dari tren yang lebih besar. Hollywood bergerak menuju konsentrasi kepemilikan yang lebih ketat, cerita yang lebih terstandarisasi dan berbasis kekayaan intelektual (IP) yang sudah terbukti, serta perhitungan risiko yang semakin konservatif. 

Yang hilang bukan hanya nostalgia untuk studio era klasik, melainkan seperti dikemukakan banyak kritikus ruang untuk keberangan eksperimen skala besar, suara-suara orisinal di luar pola yang sudah terbukti, dan film-film "tengah" (mid-budget) untuk penonton dewasa.

Hollywood hari ini bukan lagi sekadar "pabrik mimpi" dalam pengertian romantis. Ia adalah industri pengaruh (influence industry) yang sangat canggih. Warner, Universal, dan Paramount, dengan segala warisan dan strateginya, berada di garis depan perebutan itu. 

Mereka tidak hanya menjual tiket atau langganan streaming. Mereka menjual cara melihat, merasa, dan berpikir. Penonton membayar, lalu secara tidak sadar membawa pulang kerangka naratif, nilai, dan mitos tersebut ke rumah, ke percakapan sehari-hari, ke media sosial.

Di situlah kemenangan sesungguhnya dalam pertarungan imajinasi ini ditentukan. Bukan di puncak box office mingguan, bukan di jumlah piala Oscar. Melainkan di dalam kepala kita, dalam cara kita membayangkan masa depan, memahami masa lalu, dan memaknai kekacauan masa kini. Di sanalah kekuasaan sejati atas budaya global sedang diperebutkan, satu cerita dalam satu waktu.

***

*) Oleh : Muhibbullah Azfa Manik, Dosen Program Studi Teknik Industri, Universitas Bung Hatta.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Padang just now

Welcome to TIMES Padang

TIMES Padang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.