Ekonom Unand Soroti Tren Perlambatan Ekonomi Sumbar
Ekonomi Sumbar tumbuh 3,37% pada 2025, namun tren satu dekade menunjukkan perlambatan struktural. Penguatan industri, hilirisasi, dan pariwisata jadi kunci akselerasi baru.
PADANG – Laju ekonomi Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) dalam sepuluh tahun terakhir menunjukkan gejala yang tak bisa diabaikan. Meski masih mencatatkan pertumbuhan, kecepatannya terus melandai dalam satu dekade terakhir.
Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas (Unand), Hefrizal Handra, menilai perlambatan ini bukan sekadar dinamika musiman. Berdasarkan data resmi, pertumbuhan ekonomi Sumbar pada 2025 tercatat 3,37 persen—angka yang tetap positif, namun mencerminkan tren penurunan jangka panjang.
"Pola perlambatan tersebut terjadi secara bertahap dan konsisten, bukan lonjakan mendadak akibat faktor sesaat. Artinya, fenomena ini mengindikasikan persoalan yang lebih mendasar dalam struktur perekonomian daerah," kata Hefrizal di Kota Padang, Sumbar, Rabu (25/2/2026).
Menurut Hefrizal yang juga menjabat Wakil Rektor II Unand, jika perlambatan hanya dipicu siklus bisnis, maka momentum pemulihan pascapandemi COVID-19 semestinya mampu mengangkat kembali pertumbuhan ke kisaran 5 hingga 6 persen.
“Pemulihan memang ada, tetapi tidak cukup untuk mengembalikan ekonomi ke jalur ekspansi sebelumnya. Ini menandakan tantangan yang dihadapi bersifat struktural,” ujarnya.
Dari sisi pengeluaran, struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) juga mengalami pergeseran. Konsumsi rumah tangga mengalami penurunan kontribusi dalam satu dekade terakhir. Sebaliknya, net ekspor meningkat, sementara investasi relatif stagnan. Namun perubahan komposisi tersebut belum menghasilkan dorongan pertumbuhan yang signifikan.
Menurutnya, persoalan utama bukan semata pada besaran komponen pengeluaran, melainkan pada kualitas dan daya saing struktur produksi yang menopangnya.
Ia juga menyoroti komposisi lapangan usaha di Sumbar yang cenderung stagnan. Sektor primer seperti pertanian masih mendominasi, sementara proses hilirisasi berjalan lambat.
Kontribusi industri pengolahan terhadap PDRB tidak menunjukkan penguatan berarti, bahkan cenderung melemah. Sektor jasa memang tumbuh, tetapi sebagian besar masih bertumpu pada konsumsi domestik tanpa peningkatan nilai tambah yang substansial.
Sektor pariwisata pun belum menjadi motor penggerak yang kuat. Data menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara relatif stagnan dalam satu dekade terakhir. Pada 2016, angka kunjungan sempat mencapai titik tertinggi sebelum kembali stabil di kisaran 56 ribu wisatawan per tahun setelah pandemi.
Hefrizal menegaskan, pertumbuhan 3,37 persen memang bukan tanda krisis, tetapi cukup menjadi sinyal kewaspadaan. Untuk keluar dari tren perlambatan, Sumbar perlu memperkuat sektor industri, mempercepat hilirisasi pertanian, serta meningkatkan produktivitas jasa dan pariwisata agar memiliki daya ungkit lebih besar terhadap ekonomi daerah.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



