Dua Kuliner Legendaris Sumbar Ramaikan War Takjil Bukit Kandung Solok
TIMES Padang/Aroma rempah Gulai Ayam Hitam Galundi racikan Mawardi menarik perhatian warga di pasar takjil Nagari Bukit Kandung (Foto: Dioni/TIMES Indonesia)

Dua Kuliner Legendaris Sumbar Ramaikan War Takjil Bukit Kandung Solok

Di Jorong Datar, kepulan uap dari belanga besar dan aroma rempah yang menguar pelan menjadi penanda bahwa Ramadan benar-benar hidup di tengah masyarakat.

TIMES Padang,Minggu 22 Februari 2026, 22:01 WIB
495
D
Dioni Arvona

SOLOKSuasana senja Minggu (22/2/2026) di Nagari Bukit Kandung, Kecamatan X Koto Di Atas, Kabupaten Solok, tidak sekadar tentang menunggu azan Magrib. 

Di Jorong Datar, kepulan uap dari belanga besar dan aroma rempah yang menguar pelan menjadi penanda bahwa Ramadan benar-benar hidup di tengah masyarakat.

Di antara hiruk-pikuk war takjil, ada satu lapak sederhana yang tak pernah sepi: milik pasangan suami istri, Mawardi dan Yulnifa.

Dari tangan Mawardi, lahir Sambal Pangek Ombilin yang pedasnya menyentuh lidah dan menghangatkan tubuh setelah seharian berpuasa. 

Racikan bumbu yang ditumis perlahan, perpaduan cabai, bawang, dan rempah khas Minang, menciptakan rasa yang tidak sekadar pedas—tetapi berkarakter.

Tak jauh dari belanga sambal, kuah hitam pekat Gulai Ayam Hitam Galundi mengepul pelan. 

Kuliner khas Sumatera Barat yang berasal dari Nagari Sulit Air ini dikenal hingga ke wilayah Tanah Datar.

Warna kuahnya yang gelap bukan sekadar tampilan, melainkan hasil dari proses panjang pengolahan rempah yang dimasak dengan kesabaran. Daging ayam kampung yang padat dan gurih menyerap bumbu hingga ke serat terdalam.

Mawardi bukan juru masak biasa. Hampir setengah hidupnya dihabiskan di dapur.

article

Pengalamannya merantau dan dipercaya memasak di berbagai daerah seperti Palu, Jambi, hingga Bandung membentuk ketajaman insting rasa yang kini ia tuangkan di kampung halamannya. 

Baginya, memasak bukan hanya soal bumbu dan api, tetapi tentang menjaga marwah cita rasa Minangkabau.

Sementara itu, Yulnifa berdiri di depan lapak dengan senyum ramah, melayani satu per satu pembeli. Tangannya cekatan membungkus gulai dan sambal, sesekali menyapa pelanggan tetap yang sudah hafal rasa masakan mereka. 

Kerja sama keduanya bukan hanya soal usaha, melainkan tentang membangun harapan dan menghidupkan tradisi.

Menjelang Magrib, antrean semakin panjang. Warga dari berbagai penjuru berdatangan, sebagian rela menunggu agar tak kehabisan. 

Bagi mereka, membeli masakan Mawardi dan Yulnifa bukan hanya soal hidangan berbuka, tetapi juga tentang rasa percaya pada kualitas dan kehangatan yang tersaji dalam setiap bungkusnya.

War takjil di Nagari Bukit Kandung sore itu bukan sekadar pasar dadakan. Ia menjelma menjadi ruang pertemuan, tempat aroma rempah menyatukan cerita, dan di baliknya ada sepasang suami istri yang dengan setia menjaga nyala tradisi melalui rasa.

Ramadan di Bukit Kandung pun terasa lebih dalam - bukan hanya karena lapar yang ditahan, tetapi karena kebersamaan yang dimasak perlahan, dengan cinta dan pengalaman panjang. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Dioni Arvona
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Padang, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.